Self-Awareness: Fondasi Yang Sering Terlewat Dari Leadership

Semua pelaku bisnis pasti pernah mendengar cerita tentang seseorang yang sangat cerdas dan sangat terampil sehingga dia mendapat posisi sebagai leader. Namun ketika dia memimpin, dia justru gagal  dalam menjalankan perannya. Demikian juga dengan cerita mengenai seseorang yang memiliki kemampuan intelektual dan ketrampilan teknis yang biasa saja namun ketika memperoleh posisi sebagai leader, dia justru berhasil membawa timnya meraih kesuksesan.

Apa sebenarnya yang membedakan dua cerita diatas?

Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul What Makes A Leader? mengatakan bahwa para leader yang berhasil ini memiliki satu kesamaan krusial: kecerdasan emosional yang tinggi. Bukan berarti IQ dan ketrampilan teknis tidak penting. Keduanya merupakan syarat awal untuk seseorang bisa menduduki posisi leader. Tetapi penelitian yang dilakukan Goleman menunjukkan bahwa kecerdasan emosional merupakan syarat mutlak bagi kepemimpinan. Tanpa hal itu seseorang yang memiliki pelatihan terbaik, pemikiran yang tajam dan analitis serta segudang ide cerdas sekalipun, tetap tidak akan menjadi leader yang hebat.

Goleman menyebutkan bahwa self-awareness adalah komponen pertama dan sekaligus fondasi dari semua komponen kecerdasan emosi lainnya.

Self awareness atau kesadaran diri menurut Goleman diasosiasikan sebagai kemampuan mengenali dan memahami suasana hati, emosi dan dorongan diri sendiri serta dampaknya terhadap orang lain disekitarnya.

Kesadaran diri ini terbagi menjadi tiga area penting:

Kesadaran emosional yaitu kemampuan mengenali emosi diri sendiri saat satu hal terjadi dan tahu bagaimana perasaan tersebut memengaruhi tindakan serta pekerjaan. Leader dengan kesadaran emosional yang baik tahu persis kapan dia mulai kesal, kapan tekanan pekerjaan membuatnya gampang tersulut, dan bagaimana kondisi itu bisa memengaruhi caranya mengambil keputusan atau berbicara dengan tim.

Penilaian diri sendiri yang tepat – kemampuan mengenali batas kemampuan diri, kelebihan serta kelemahan diri sendiri secara jujur tanpa terlalu merendahkan atau membesar-besarkan. Leader dengan penilaian diri yang akurat tahu kapan dia unggul di suatu bidang dan kapan dia perlu bergantung pada orang lain yang lebih ahli.

Kepercayaan diri – keyakinan atas diri sendiri dan kemampuan yang dimiliki untuk menghadapi tantangan. Ini berbeda dari sekadar percaya diri secara umum; kepercayaan diri di sini lahir dari pemahaman yang realistis tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan.

Leader yang memiliki tingkat kesadaran diri sendiri yang tinggi memahami bahwa perasaannya memengaruhi diri sendiri, orang lain dan hasil dari pekerjaan orang lain yang dipimpinnya. Oleh sebab itu, leader yang sadar bahwa deadline yang ketat cenderung memunculkan sisi terburuk dari dirinya, misalnya jadi mudah marah atau bahkan terburu-buru dalam mengambil keputusan, biasanya akan merencanakan waktu jauh lebih cermat sehingga dia dan timnya mampu menyelesaikan pekerjaan sebelum batas waktu berakhir .

Kesadaran diri mencakup pemahaman seseorang tentang nilai dan tujuan hidup. Orang dengan kesadaran diri yang tinggi sudah tahu kemana arah tujuan dan alasannya yang dipilihnya. Contoh, dia akan mampu dengan tegas menolak tawaran pekerjaan yang menggiurkan secara finansial namun tidak sejalan dengan prinsip atau tujuan jangka panjangnya.

Sebaliknya, orang yang kurang memiliki kesadaran diri cenderung mengambil keputusan yang memicu pergulatan batin, karena dia mengabaikan hal-hal yang sebenarnya dia yakini tapi dipendam sendiri.Keputusan yang diambil orang dengan kesadaran tinggi umumnya selaras dengan nilai-nilai mereka, sehingga pekerjaan pekerjaan terasa sebagai sumber energi dan bukan beban yang harus ditanggung.

Bayangkan dua leader menghadapi situasi yang sama: rapat tim yang memanas karena target meleset jauh dari rencana. Leader pertama, yang kesadaran dirinya rendah, langsung merasa diserang begitu ada anggota tim yang mempertanyakan strateginya, lalu membalas dengan nada defensif meski masukan itu sebenarnya wajar. Leader kedua, yang kesadaran dirinya tinggi, menyadari dorongan untuk membela diri itu muncul, tapi mengenalinya sebagai reaksi sesaat, bukan sesuatu yang harus langsung dituruti. Dia memilih diam sejenak, mendengarkan sampai selesai, baru menjawab dengan tenang. Dua respons ini terlihat kecil, tapi efeknya ke tim sangat berbeda: yang satu membuat anggota tim enggan bersuara di rapat berikutnya, yang lain justru membuat mereka merasa aman untuk terus terbuka.

Perbedaan semacam ini membuat kesadaran diri bukan sekadar urusan pribadi seorang leader, melainkan sesuatu yang ikut membentuk budaya kerja timnya. Leader yang mengenal dirinya dengan baik lebih mudah membangun kepercayaan, karena tim tahu reaksinya bisa diprediksi. Sebaliknya, leader yang tidak sadar akan pola emosinya sendiri sering kali menjadi sumber ketidakpastian bagi timnya, bahkan tanpa dia sadari.

Lalu bagaimana cara mengenali seseorang dengan kesadaran diri yang tinggi?

Hal ini tercermin dari sikap terus terang dan kemampuan menilai diri sendiri secara realistis. Orang dengan kesadaran diri tinggi mampu berbicara secara akurat dan terbuka tentang emosinya serta dampaknya terhadap pekerjaan, meski tidak harus berlebihan atau mencurahkan seluruh isi hatinya.

Kesadaran diri juga dapat terlihat saat dilakukan evaluasi kinerja berlangsung. Leader atau anggota tim yang memiliki kesadaran diri merasa nyaman membicarakan keterbatasan serta kekuatan mereka, dan mereka sering kali menunjukkan keinginan kuat untuk menerima kritik yang membangun. Sebaliknya, leader atau anggota tim dengan tingkat kesadaran diri yang rendah cenderung menganggap masukan soal perbaikan sebagai sebuah ancaman atau tanda kegagalan.

Orang dengan kesadaran diri tinggi juga bisa dikenali dari cara mereka menempatkan diri. Mereka memahami kemampuan sendiri dengan baik sehingga jarang menempatkan diri dalam situasi berisiko gagal, misalnya memaksakan diri mengambil tugas yang jauh melampaui kapasitasnya. Mereka juga tahu persis kapan harus meminta bantuan orang lain. Risiko yang mereka ambil dalam pekerjaan pun merupakan risiko yang terukur; mereka tidak akan menerima tantangan yang mereka tahu tidak sanggup mereka tangani sendirian, dan lebih memilih mengandalkan kekuatan yang sudah mereka miliki.

Sayangnya tidak sedikit eksekutif senior kurang memberikan apresiasi terhadap self-awareness ketika sedang mencari kandidat leader. Banyak yang keliru menganggap keterbukaan dalam mengungkapkan perasaan sebagai tanda kelemahan dan gagal memberikan penghargaan yang layak bagi orang yang secara terbuka mengakui kekurangan mereka. Orang-orang seperti itu terlalu cepat dianggap “kurang tangguh” untuk bisa memimpin orang lain.

Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Pertama, orang pada umumnya mengagumi dan menghargai keterusterangan, bukan menganggapnya sebagai kelemahan. Kedua, leader senantiasa dituntut untuk mengambil keputusan yang memerlukan penilaian jujur baik terhadap diri sendiri maupun kemampuan orang lain. Dan penilaian semacam ini hanya mampu dilakukan dengan baik oleh orang-orang yang benar-benar mengenali dirinya sendiri.

Untungnya, kecerdasan emosional termasuk kesadaran diri didalamnya bukan bakat bawaan yang hanya dimiliki segelintir orang. Ini dapat dipelajari. Prosesnya tidaklah mudah; butuh waktu dan, yang terpenting komitmen untuk terus mengevaluasi diri.

Cara paling sederhana adalah dengan berani bertanya pada orang terdekat di tempat kerja, dalam hal ini anggota tim tentang bagaimana leader bersikap terlihat dari sudut pandang mereka. Tentunya pertanyaan ini terasa tidak nyaman, apalagi buat leader yang terbiasa dianggap benar. Tapi dari situlah gambaran mengenai dirinya mulai terlihat karena leader tidak bisa menilai dampaknya ke orang lain hanya dari sudut pandangnya sendiri.

Kesadaran diri bukan tujuan yang sekali dicapai lalu selesai. Dia lebih seperti kebiasaan yang harus terus dilatih; semakin sering seorang leader jujur pada dirinya sendiri dan terbuka pada masukan dari orang lain, semakin baik pula cara ia memimpin. Dan manfaat yang didapat dari kecerdasan emosional yang berkembang baik untuk dirinya, timnya atau organisasi tempat ia bekerja membuat semua usaha itu sesuai untuk terus dijalani.

Similar Posts