Grow With Ati

Journaling ala Leader: 10 Menit Sehari untuk Mengenal Diri dan Mengambil Keputusan Lebih Tajam.

Sebagai leader, hari ini terasa begitu panjang. Rapat datang beruntun tanpa jeda, dan Anda pun sudah mengambil banyak keputusan penting: menyetujui anggaran, menenangkan klien yang kesal karena proyeknya sedikit tertunda, hingga menjawab pertanyaan tim di grup Whatsapp yang tidak ada habisnya.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan kepala Anda masih penuh.

Seandainya seseorang bertanya, “Keputusan mana yang paling Anda yakini hari ini, dan mengapa?”, Anda mungkin tidak bisa langsung menjawab. Bukan karena kemampuan Anda kurang, melainkan karena Anda terlalu sibuk memimpin orang lain sehingga tidak sempat memproses pikiran sendiri. Padahal, ruang untuk itu tidak membutuhkan waktu berjam-jam. Cukup 10 menit, satu buku catatan, dan pena.

Kenapa Leader Butuh Cermin

Disinilah pentingnya ‘journaling’.  Menulis jurnal adalah proses menuangkan pikiran ke dalam tulisan, yang memungkinkan Anda untuk memproses pikiran-pikiran tersebut sambil menulis. Berbeda halnya dengan to-do list atau catatan rapat, menulis jurnal tidak mencatat apa yang harus dikerjakan, melainkan bagaimana Anda berpikir, merasa dan mengambil keputusan.

Semakin tinggi posisi seseorang, semakin sedikit orang di sekitarnya yang berani memberi masukan secara jujur. Karena itu, leader membutuhkan cermin yang tidak menghakimi dan tidak perlu disaring terlebih dahulu. Jurnal dapat menjadi cermin tersebut.

Leader masa kini perlu menguasai lima soft skill: menjadi pendengar yang suportif, menerima diri sendiri, peka terhadap tim, berani jujur atas kekurangan diri, dan bersikap transparan. Jurnal menyediakan ruang pribadi yang jujur dan terbuka untuk melatih kelima hal itu.

Melalui kebiasaan menulis jurnal, Anda bisa merenungkan pencapaian, tantangan dan perkembangan diri. Hasilnya, Anda mampu memfasilitasi diskusi yang lebih bermakna dan konstruktif dengan tim. Pada akhirnya, menulis jurnal berkontribusi pada pertumbuhan pribadi sekaligus kualitas Anda sebagai leader.

Yang Berubah Saat Leader Rutin Melakukan Refleksi

Setelah rutin menulis jurnal selama beberapa minggu, perubahan yang paling terasa ada pada cara Anda mengambil keputusan. Menulis memaksa Anda mengurai masalah kalimat demi kalimat, sehingga pikiran yang tadinya kusut menjadi lebih tersusun.

Bayangkan ketika seorang leader harus menolak permintaan mendadak dari seorang klien. Di kepala, semuanya bercampur: kesal karena waktunya sempit, takut kehilangan klien, dan hitungan anggaran yang kemungkinan akan berubah. Di atas kertas, Anda bisa memisahkannya menjadi dua kolom tulisan. Kolom fakta berisi permintaan di luar kontrak, tim sudah penuh, dan margin akan menipis. Kolom emosi berisi rasa kesal dan takut dianggap tidak fleksibel. Setelah terpisah, Anda tahu mana yang layak menjadi dasar keputusan dan mana yang cukup diakui, lalu dilepas.

Nancy J. Adler, profesor dari McGill University dan penulis buku Leadership Insight, menyebut bahwa jadwal yang padat bisa menenggelamkan wawasan terbaik seorang leader, dan menulis jurnal membantu mengangkatnya kembali.

Seiring waktu, halaman-halaman jurnal juga memperlihatkan pola: situasi yang memicu reaksi spontan, atau keputusan yang selalu Anda tunda. Dengan mengenali pola tersebut, Anda dapat mengenali diri sendiri sebelum keputusan berikutnya datang.

Framework 10 Menit Sehari

Sebenarnya, leader hanya membutuhkan 10 menit untuk melakukan journaling setiap hari, yang dibagi menjadi sesi pagi dan sesi malam.

Pagi (3 menit): tetapkan niat. Sebelum membuka email atau ponsel, siapkan dua pertanyaan: “Satu hal apa yang harus berjalan baik hari ini?” dan “Sikap apa yang ingin saya bawa ke tim hari ini?” Tulis jawabannya dalam satu atau dua kalimat. Dengan begitu, Anda sudah menentukan arah hari ini, bukan sekadar bereaksi terhadap notifikasi pertama. Pertanyaan pertama membantu Anda menentukan prioritas, sedangkan pertanyaan kedua mengingatkan bahwa sikap seorang leader memengaruhi suasana kerja tim.

Malam (7 menit): refleksi. Setelah pekerjaan selesai, tuliskan jawaban atas empat pertanyaan berikut:

Pertanyaan terakhir paling berharga bagi leader karena melatih Anda memilah keputusan yang berdasarkan fakta dari keputusan yang muncul karena sikap impulsif. Pertanyaan ketiga, tentang hal yang Anda hindari, sering menjadi yang paling jujur. Percakapan sulit yang ditunda atau keputusan yang dibiarkan menggantung biasanya muncul di sini.

Journaling tidak harus ditulis dengan kalimat yang indah dan panjang, sebab tujuannya adalah kejujuran pada diri sendiri. Tiga kalimat pun sudah cukup. Di hari yang melelahkan, jawaban singkat tetap lebih baik daripada tidak menulis sama sekali.

Leader disarankan untuk menulis dengan tangan ketika menulis jurnal, karena menulis tangan memberi manfaat lebih besar daripada mengetik. Tetapi jika Anda lebih nyaman memakai aplikasi catatan di ponsel, pakailah itu. Media terbaik adalah yang paling sedikit hambatannya, karena kebiasaan yang rumit biasanya berhenti di minggu kedua. Letakkan buku atau aplikasinya di tempat yang selalu terlihat, misalnya di samping laptop atau tempat tidur.

Pertanyaan Refleksi Mingguan

Setelah rutin menjalankan journaling harian, sisihkan waktu 15 menit di akhir pekan untuk melihat kejadian selama satu minggu dengan beberapa pertanyaan berikut:

Salin ketiga pertanyaan ini ke buku catatan atau aplikasi Anda, lalu jawab dengan singkat dan spesifik. Tuliskan nama orang dan tindakan nyata, misalnya “berterima kasih kepada anggota tim atas laporan yang selesai lebih awal”. Jawaban yang konkret lebih mudah ditindaklanjuti daripada jawaban yang umum.

Kesalahan Umum dan Cara Tetap Konsisten

Kebanyakan orang berhenti melakukan journaling bukan karena tidak bermanfaat, tetapi karena tiga hal berikut.

Agar lebih konsisten, sebaiknya Anda menetapkan jam yang sama setiap harinya dan kaitkan ini dengan kebiasaan yang sudah ada, misalnya menulis sambil minum kopi di pagi hari atau sebelum menutup laptop di malam hari.

Journaling bukan soal membuat catatan rapi. Ini tentang mengenal diri sendiri, sehingga Anda sebagai leader dapat memimpin dan mengambil keputusan lebih tajam.

Mulai malam ini, coba tantangan sederhana berikut: tulis tiga kalimat saja selama tujuh hari berturut-turut. Setelah seminggu, baca kembali catatan Anda dan perhatikan apa yang berubah, baik dalam cara berpikir maupun cara mengambil keputusan.

Exit mobile version