Grow With Ati

Leader Sibuk Selamatkan Tim dari Burnout, Siapa Selamatkan Leadernya?

Leader seharusnya membantu mencegah kelelahan kerja atau burnout bagi karyawan atau timnya. Tapi bagaimana jika leader adalah seseorang yang mengalami kesulitan menyeimbangkan beban kerja?

Ini terjadi pada Arianna Huffington, pendiri Huffington Post, salah satu media digital terbesar, terkenal dan paling berpengaruh di Amerika Serikat. Pada tahun 2007, dua tahun setelah meluncurkan Huffington Post, ia ambruk di kantornya karena kelelahan total setelah rutin bekerja 18 jam sehari. Saat itu dokter yang memeriksanya menyimpulkan tidak ada masalah medis, ini murni cara Arianna menjalani hidup dan prioritasnya.

Di satu sisi WHO secara resmi mengklasifikasikan burnout sebagai “occupational phenomenon” atau fenomena pekerjaan dan bukan kondisi medis.

Burnout didefinisikan sebagai sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola dengan 3 ciri utama :

Leader lebih rentan mengalami burnout karena mereka menghadapi stres kerja kronis yang tidak terkelola akibat tingginya tuntutan peran dan tanggung jawab.

Dalam sebuah artikel di Harvard Business Review yang berjudul ‘Serious Leaders Need Self-Care, Too’ disebutkan bahwa ketika seorang leader disarankan untuk beristirahat sejenak, justru respon yang didapat adalah mereka tidak punya waktu karena beban mereka sudah melampaui batas; mengurus tim dan keluarga, harus memberi dukungan moral bagi rekan kerja, anggota tim…sehingga mereka selalu mengatakan ‘saya tidak punya waktu untuk hal itu’

Perlu dicatat bahwa burnout bukanlah rasa tidak suka terhadap pekerjaan atau perasaan bahwa leader telah melampaui kapasitas perannya. Sebaliknya kondisi ini merujuk pada ketidakmampuan – bukan kurangnya keinginan – untuk mengerahkan fisik dan mental yang diperlukan guna menjalankan pekerjaan yang sesungguhnya dipedulikan oleh leader.

Leader sebaiknya bertanya pada diri sendiri,  bukan menanggapi kalimat ‘saya tidak punya waktu’:

Ada beberapa tips yang bisa membantu mengenali dan mengatasi burnout ini:

Perhatikan tanda-tanda burnout.

Bagi para leader yang kesehariannya dipenuhi kesibukan padat dan tanggung jawab berisiko tinggi, mengenali tanda-tanda burnout bisa jadi sulit. Jadwal yang padat dan berbagai prioritas yang saling bersaing adalah hal yang lumrah dan belum tentu menjadi indikator bahwa beban kerja leader sudah tidak seimbang.

Beberapa tanda tanda fisik atau mental dari burnout adalah:

Temukan penyebab burnout

Dengan mengetahui sumber utama burnout yang dialami, leader dapat berfokus membangun sumber daya untuk meredakan faktor pemicu stres di ranah yang spesifik tersebut.

Sebagai contoh, jika leader merasa cemas mengenai kelanjutan suatu kemitraan di masa depan, luangkan waktu untuk berfokus pada hal-hal yang dapat ditangani hari ini, meskipun hanya berupa langkah-langkah kecil.

Hal ini bisa berupa mencatat poin-poin untuk pembicaraan mendatang atau menyusun konsep sebagian dari jadwal  proyek. Bahkan sekadar membaca ulang beberapa email penting pun dapat membantu menumbuhkan rasa optimisme dan antusiasme leader terhadap proyek tersebut.

Bersikaplah Terbuka dan Apa Adanya dengan Tim Kepemimpinan Anda

Membangun rasa kebersamaan dalam tim kepemimpinan Anda adalah hal yang krusial. Ada banyak manfaat dari sikap terbuka saat membahas rasa burnout dengan leader lainnya. Jadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dalam tim kepemimpinan karena dengan begitu rekan kerja atau anggota tim bisa turun tangan dan berbagi tugas, karena pekerjaan berkualitas tidak mungkin dihasilkan jika dilakukan dalam kondisi burnout.

Akibatnya pekerjaan dilakukan secara asal-asalan, kesalahan terjadi dan hubungan menjadi retak. Tentunya hal ini akan menimbulkan kerugian bagi banyak pihak.

Para leader sebaiknya menjadikan sesi evaluasi berkala sebagai bagian rutin dari rapat tim. Berikan kesempatan kepada setiap orang untuk membahas pertanyaan sederhana dan santai, seperti: “Jika Anda bisa melepas satu tugas dari beban kerja Anda saat ini, tugas apa itu dan mengapa?”

Hal ini memungkinkan leader untuk menunjukkan sikap jujur ​​dan keterbukaan diri. Tanggapan yang muncul dapat membuka percakapan mengenai penyesuaian tanggung jawab dan prioritas.

Delegasikan Tugas Berdampak Positif Bagi Semua Pihak

Burnout sering kali menjadi tanda bahwa leader kurang melakukan pendelegasian. Para leader perlu bertanya pada diri sendiri apakah mereka sudah cukup memercayai dan memberdayakan tim mereka. Apakah leader melampaui batasan perannya? Leader cenderung melakukan micromanagement? Atau merasa harus turun tangan langsung menangani setiap masalah mendesak? Jika jawabannya ya maka leader sedang menempatkan diri pada risiko mengalami burnout.

Keuntungan lain dari pendelegasian pekerjaan adalah meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan karyawan dalam bekerja yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi seluruh tim.

Pentingnya Pencegahan

Burnout memengaruhi kemampuan leader dalam memimpin organisasi dan menagivasi berbagai tantangan. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan membangun landasan pencegahan.

Rekrutlah tim yang dapat diandalkan. Jadikan kesejahteraan karyawan secara menyeluruh sebagai prioritas strategis guna mencegah tingginya tingkat keluar-masuk karyawan di organisasi. Terapkan prinsip yang jelas dalam memutuskan kapan harus menolak atau kapan harus melimpahkan tugas.

Berikan contoh perilaku sehat dengan menyempatkan diri untuk rehat sejenak dari pekerjaan, misalnya melakukan kegiatan olahraga selama satu jam atau mengambil libur selama satu minggu. Jika leader peduli terhadap organisasi, artinya leader juga harus peduli terhadap diri sendiri.

Ariana Huffington kemudian mendirikan Thrive Global, sebuah perusahaan teknologi perubahan perilaku (behaviour change technology) yang membantu individu maupun organisasi dalam mengatasi burnout demi meningkatkan kesehatan mental, ketahanan diri dan produktivitas yang lebih baik. Ia berpendapat bahwa teknologi memberi manusia kekuatan dan peluang luar biasa untuk mencapai banyak hal. Tapi di sisi lain, teknologi juga mempercepat laju hidup hingga melampaui kemampuan kita sendiri untuk mengimbanginya.

Banyak orang merasakan bahwa mereka dikendalikan oleh sesuatu yang seharusnya mereka kendalikan. Terlepas dari seberapa paham kita akan aspek ilmiah di balik burnout serta kesejahteraan diri, kemampuan kita untuk fokus, berpikir, hadir sepenuhnya, dan terhubung dengan diri sendiri terasa semakin terancam dan ini adalah salah satu alasan Ariana mendirikan Thrive Global sepuluh tahun setelah insiden dirinya jatuh di kantor yang kemudian membawa begitu banyak perubahan dalam hidupnya.

Exit mobile version