Hasil survei Microsoft Work Trend Index 2022 mencatat 66% pekerja di Indonesia lebih mempertimbangkan untuk beralih ke kerja hybrid, gabungan WFO dan WFH. Bagi perusahaan, tren ini menghadirkan efisiensi operasional dan peningkatan produktivitas. Tapi ada satu hal yang sering terlupa: hybrid work bukan kebijakan yang selesai begitu diumumkan, melainkan perubahan yang terus berjalan. Sama seperti perubahan organisasi lainnya, transisi ini butuh pendekatan change management yang serius, bukan cuma surat edaran jadwal kerja, dan leader adalah pihak yang paling menanggung bebannya.
Tantangan Utama Mengelola Tim Dengan Pola Kerja Hybrid
Tantangan utama dalam mengelola tim dengan pola kerja ini adalah mempertahankan kolaborasi, memperkuat rasa kebersamaan, membangun kepercayaan, serta menyelaraskan pekerjaan antar anggota tim yang harinya di kantor dan di rumah tidak selalu sama. Pola kerja hybrid butuh koordinasi dan kepemimpinan yang kuat dari leader, meskipun tidak semua orang berada di ruangan yang sama tiap hari dengan tujuan untuk menjaga agar kerja tim tetap optimal.
Tidak sedikit karyawan hybrid yang merasa kurang terhubung dengan budaya organisasi, karena interaksi mereka dengan tim jadi lebih terbatas dibanding waktu semua orang ada dalam kondisi WFO penuh.
Karyawan yang memiliki waktu WFH lebih banyak, termasuk generasi Z yang baru masuk dunia kerja, cenderung lebih rentan merasa kesepian dan kurang terhubung, karena interaksi bermakna dengan tim jadi lebih jarang.
Tapi kehadiran fisik di kantor beberapa hari seminggu tidak secara otomatis cukup untuk mempertahankan budaya organisasi. Leader tetap harus sengaja menciptakan momen keterhubungan itu, di hari WFO maupun WFH.
Membangun Trust dalam Tim Hybrid
Kepercayaan merupakan elemen yang sangat rentan dalam pola kerja ini terutama ketika anggota tim sedang WFH.
Seorang leader harus bisa berkomunikasi secara konsisten kepada timnya, menjelaskan ekspektasi yang diinginkan, meminta pertanggungjawaban hasil kerja dari semua anggota, serta memberikan umpan balik dan peluang untuk meningkatkan skill anggota timnya. Ini penting supaya mereka merasa aman ketika harus bicara, bertanya, bahkan memberikan kritik, baik saat di kantor maupun saat kerja dari rumah, tanpa harus takut akan sanksi.
Cara Mengelola Tim Hybrid
Mengelola tim hybrid secara efektif artinya memperjelas ekspektasi, melakukan coaching secara berkala, serta memperkuat keterikatan anggota tim, agar mereka tetap termotivasi, produktif, dan tetap merasa terhubung, baik saat WFO maupun WFH.
- Tujuan
Di hari-hari WFH, karyawan sering kali merasa terisolasi dan cuma menyelesaikan tugas tanpa tahu dampak besarnya.
Leader harus terus mengingatkan dan mengaitkan tugas sehari-hari anggota timnya dengan visi, misi, dan bagaimana dampaknya bagi perusahaan, juga menjelaskan konteks di balik sebuah tugas saat ada meeting virtual, bukan hanya sekadar memberikan tugas.
2. Pengembangan Diri
Karyawan yang lebih banyak melakukan WFH sering kali merasa karir mereka terlupakan karena tidak terlihat langsung oleh leader. Di sini leader harus fokus pada pertumbuhan karir dan peningkatan keterampilan anggota timnya, bukan sekadar menuntut hasil kerja. Leader harus secara rutin mengadakan jadwal one on one khusus membahas rencana karir, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta menyediakan pelatihan yang dibutuhkan oleh anggota tim.
3. Kepedulian
Karena batasan kerja dan kehidupan pribadi sering kabur di hari hari WFH, leader perlu menunjukkan empati tinggi dengan menunjukkan perhatian tulus kepada anggota tim sebagai manusia bukan hanya sebagai karyawan. Bertanya kabar mereka diluar urusan pekerjaan, menghormati waktu istirahat dengan tidak mengirimkan pesan diluar jam kerja adalah wujud kepedulian leader dalam hal mendukung work-life balance serta kesehatan mental mereka.
4. Potensi Karyawan
Fokus pada apa yang dikuasai dengan baik oleh anggota tim, dengan menempatkan mereka pada peran yang mampu memaksimalkan bakat yang mereka miliki. Ketika karyawan bekerja dengan skill terbaiknya, mereka cenderung lebih mandiri, percaya diri, dan menghasilkan hasil kerja yang tinggi, meskipun tanpa pengawasan langsung.
Menciptakan Budaya Kerja Hybrid Yang Positif
Organisasi dapat mempertahankan budaya hybrid yang positif dengan secara konsisten memperkuat tujuan, nilai-nilai, dan ekspektasi melalui keputusan kepemimpinan, komunikasi, dan manajemen kinerja. Untuk menjaga budaya kerja jarak jauh yang kuat, para leader harus memastikan tindakan mereka mencerminkan:
- Konsistensi dalam menyelaraskan keputusan dengan nilai-nilai yang telah ditetapkan
- Kejelasan dalam menyampaikan harapan dan dasar pemikiran secara transparan
- Kebijakan dan janji yang sesuai dari leader dengan tindakan nyata yang dilakukan sehari hari
Cegah Kelelahan Kerja Pada Sistem Kerja Hybrid
Bekerja secara hybrid memberikan kebebasan penuh bagi karyawan/anggota tim untuk mengatur waktu dan tempat kerja. Tapi kebebasan tanpa aturan dan dukungan sangat berbahaya karena bisa jadi mereka bingung kapan harus mulai dan berhenti bekerja sehingga mereka akhirnya bekerja terus – menerus tanpa henti.
Kemudian mereka juga merasa terisolasi , kesepian tanpa adanya bantuan dari leader atau sesama anggota tim.
Untuk mencegah hal tersebut terjadi, leader harus melakukan:
- Menetapkan ekspektasi yang jelas
Anggota tim harus tahu persis apa tugas mereka, target yang harus dicapai dan bagaimana kinerja mereka akan dinilai. Ketika targetnya jelas, mereka tidak perlu menebak-nebak atau bahkan bekerja berlebihan hanya karena takut dianggap ‘tidak bekerja’.
- Mengkoordinasikan aturan bersama didalam tim
Leader dan anggota tim harus membuat kesepakatan bersama tentang cara berkomunikasi. Contohnya: tidak boleh mengirim pesan kerja di atas jam 7 malam, menetapkan jam kerja inti dimana semua orang harus online atau menentukan kapan harus memakai email dan kapan harus melakukan chat.
- Menjaga komunikasi rutin antara leader dan anggota tim
Leader harus rutin melakukan sesi obrolan one on one dengan anggota tim. Ini dilakukan bukan hanya untuk menanyakan tugas, tapi juga untuk menanyakan kabar, mendengar keluh kesah, dan membantu mencari solusi jika anggota tim merasa kewalahan atas pekerjaannya.
Singkatnya, sistem kerja hybrid tetap butuh batasan dan kepedulian agar kebebasan kerja mereka tidak berubah menjadi beban mental.
Bagaimana Pola Kerja Hybrid Memengaruhi Keterlibatan dan Kesejahteraan Karyawan
Karyawan yang menjalani pola kerja hybrid sering kali merasa lebih terikat dan bersemangat dalam bekerja (lebih engaged), karena kebebasan waktu dan tempat di hari-hari ketika WFH membuat mereka lebih mandiri, bisa menggunakan waktu dengan lebih efisien, serta lebih mudah fokus tanpa gangguan.
Keberhasilan tim hybrid ditentukan bukan oleh berapa hari WFO atau WFH, melainkan oleh kualitas leader, kejelasan ekspektasi, dan tim yang memang disiapkan untuk bekerja dengan sistem ini. Kemampuan leadership yang mumpuni jauh lebih menentukan dibanding di mana dan kapan anggota tim itu bekerja.
Jadi kalau perusahaan baru saja menerapkan kebijakan hybrid dan menganggap urusan sudah selesai di situ, ini saatnya mengevaluasi ulang. Beberapa hal sederhana yang bisa langsung dicoba: buka ruang diskusi bersama tim soal jadwal WFO-WFH, bukan cuma menurunkan keputusan dari atas. Jadwalkan one on one rutin, bukan cuma saat ada masalah. Evaluasi ulang kebijakan hybrid setiap beberapa bulan, karena kebutuhan tim bisa sangat berubah.
Intinya, mengelola hybrid work itu soal change management yang tidak pernah benar-benar selesai. Kebijakannya gampang dibuat karena tinggal menentukan hari WFO dan WFH. Tapi leadership yang menjalankannya, butuh kerja terus-menerus.
