Strategic Leadership di Era Multigenerasi
Saat ini kebanyakan perusahaan mempekerjakan empat generasi secara bersamaan atau yang kita kenal dengan istilah multi generation workplace. Dan bagi seorang leader, memahami realita ini bukan lagi suatu pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Pertama, generasi baby boomer yang membantu membangun perusahaan atau institusi tempat mereka bekerja.
Kedua, generasi X yang menjembatani era analog dan digital
Ketiga, generasi Milenial yaitu generasi yang menguasai jumlah terbesar di angkatan kerja saat ini.
Keempat, generasi Z yang belum pernah mengenal dunia tanpa internet atau generasi yang sangat digital.
Menghadapi empat generasi secara bersama-sama didalam satu lingkungan kerja berpotensi memicu konflik dan ketegangan yang berakibat pada adanya penurunan produktivitas karyawan dan juga menjadi tantangan tersendiri bagi para leader.
Lindsey Pollak, seorang penulis dan pembicara international asal Amerika Serikat menuliskan dalam buku The Remix: How To Lead and Succeed in the Multigenerational Workplace. Pollak mengatakan bahwa untuk sukses di di dunia bisnis yang semakin kompleks, para leader harus merangkul cara-cara kerja baru yang sesuai dengan generasi Z, sebagai si paling digital tetapi harus tetap mengakomodasi Baby Boomers dan Generasi X yang kemungkinan besar masih akan berada di dunia kerja selama beberapa dekade ke depan.
Pollak yang bertahun tahun bekerja langsung dengan ratusan perusahaan dan mendengar langsung tantangan yang dihadapi oleh para leader ketika mereka menghadapi tim yang terdiri dari multi generasi ini, menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan istilah remix , layaknya seorang DJ, dimana leader menggabungkan semua karyawan multigenerasi untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik, untuk menggambarkan bagaimana suatu tim didalam sebuah organisasi harus memadukan kekuatan setiap generasi dan bukan menggantikan generasi lama dengan generasi baru.
Menerima Realitas Empat Generasi
Jadi, langkah pertama dalam menciptakan lingkungan kerja multigenerasi yang sukses adalah menganalisa generasi mana di antara karyawan yang terlalu banyak atau terlalu sedikit yang terwakili. Ini dapat menjadi indikator tentang bagaimana seorang leader menerapkan strategi baru untuk timnya.
Misalnya, ketika tim membutuhkan pelatihan digital, Gen Z bisa mengambil peran sebagai pengajar bagi Baby Boomers. Sebaliknya, saat tim perlu belajar cara membangun dan menjaga hubungan baik dengan klien, giliran Baby Boomers yang berbagi pengalaman. Setiap orang punya kekuatan masing-masing dan tugas leader adalah memastikan kekuatan itu dimanfaatkan, bukan diabaikan.
Dengan memahami skill dan keinginan multigenerasi di tempat kerja, dapat membantu perusahaan mempertahankan hubungan yang kuat dengan sesama karyawan serta mendorong pertumbuhan pribadi dan profesional. Namun harus diingat bahwa belum tentu satu strategi yang diterapkan bisa berlaku untuk semua karyawan.
Setiap generasi tentunya memiliki cara berpikir, belajar, dan memimpin yang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat setiap generasi unik dan perusahaan perlu merangkul hal itu. Berhenti untuk berpikir bahwa ada generasi yang sudah tidak dibutuhkan dan mulailah berempati dengan mereka. Dengan adanya pemahaman yang terbuka mengenai perbedaan ini tentunya akan mendorong sebuah perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Ide dasarnya sebenarnya sederhana, daripada mengubah apa yang sudah berhasil, semua orang di tim itu hanya harus belajar beradaptasi dan menambahkan hal-hal baru. Hanya karena generasi yang berbeda melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda, bukan berarti mereka harus bersaing antar tim sehingga menimbulkan lingkungan kerja yang tidak bersahabat. Karena pada kenyataannya, mereka tidak terlalu jauh berbeda antara satu generasi dengan generasi lainnya.
Meremix Komunikasi
Banyak dari karyawan yang merasa bahwa gaya komunikasi adalah perbedaan terbesar antar generasi ditempat kerja. Kenapa bisa demikian? Jawabannya sangat sederhana : setiap generasi tumbuh dengan teknologi dan norma sosial yang berbeda, sehingga cara mereka berkomunikasi pun sangat berbeda dan perbedaan ini yang sering kali memicu kesalahpahaman, frustrasi, bahkan konflik di tempat kerja.
Mari kita lihat perbedaan gaya komunikasi ditiap generasi
Baby Boomers adalah generasi yang tumbuh di era komunikasi tatap muka dan surat fisik. Mereka cenderung lebih menyukai komunikasi tatap muka dan proses yang terstruktur. Mereka lebih mungkin mengangkat telepon atau menjadwalkan pertemuan daripada mengirim pesan melalui text seperti sekarang ini. Generasi ini cenderung menghargai komunikasi yang jelas, formal, dan hirarkis.
Generasi X berada di tengah-tengah, mereka tumbuh di masa peralihan. Mereka masih ingat betul bagaimana rasanya rapat tatap muka yang panjang dan memo kertas, tapi mereka juga termasuk generasi pertama yang mengadopsi email saat teknologi itu mulai masuk ke dunia kerja. Hasilnya, mereka tidak terlalu fanatik pada satu cara komunikasi tertentu, artinya mau tatap muka, mau telepon, mau email, semua oke bagi mereka, tergantung kebutuhan.
Yang menarik, email dan telepon one on one masih jadi favorit sejati Gen X sampai sekarang. Ada sesuatu yang mereka sukai dari komunikasi yang lebih langsung dan personal, entah itu suara di ujung telepon atau balasan email yang terstruktur rapi. Bagi mereka, komunikasi yang baik bukan soal seberapa cepat, tapi seberapa jelas dan tepat sasaran.
Millennials adalah generasi yang pertama kali benar-benar “pindah rumah” ke dunia digital dalam hal komunikasi kerja. Mereka besar di masa transisi; masih sempat merasakan dunia tanpa internet, tapi juga tumbuh bersama munculnya email, lalu media sosial, lalu aplikasi chat. Hasilnya? Mereka sangat nyaman bergerak di antara semua itu.
Yang paling khas dari Millennials adalah mereka suka komunikasi yang mengalir alias tidak mau nunggu lama untuk dapat respons, dan lebih senang kalau feedback datang secara berkala. Slack, Teams, grup chat itu bukan sekadar alat kerja bagi mereka, itu sudah jadi bagian dari ritme kerja sehari-hari.
Dan ini yang cukup unik: di antara semua generasi yang ada di tempat kerja sekarang, Millennials adalah satu-satunya yang tidak terlalu merindukan meeting tatap muka. Bukan berarti mereka tidak bisa, tapi kalau bisa diselesaikan lewat chat, kenapa juga harus jadwalkan rapat? Buat mereka, efisiensi itu penting dan terkadang satu pesan Slack yang tepat jauh lebih efektif dari satu jam pertemuan.
Gen Z adalah generasi paling digital, mereka memang tumbuh dengan smartphohe sejak kecil. Tapi ada satu hal yang cukup bikin banyak orang terkejut: meskipun mereka adalah generasi paling digital, Gen Z justru sangat menghargai percakapan langsung. Ketemu muka, ngobrol langsung — itu tetap jadi sesuatu yang mereka sukai, terutama untuk hal-hal yang serius atau penting.
Di sisi lain, untuk komunikasi sehari-hari di tempat kerja, mereka lebih memilih yang cepat dan tepat sasaran. Pesan instan jauh lebih sering mereka gunakan dibanding email karena email bagi mereka dirasa terlalu formal dan lambat untuk kebutuhan yang sifatnya segera. Tapi jangan salah, kalau memang perlu, mereka tetap pakai email atau pesan singkat yang ringkas asalkan tidak bertele-tele.
Satu hal lagi yang menarik: Gen Z punya batasan yang cukup tegas antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi mereka. Jangan harap mereka akan aktif merespons pesan kantor lewat akun Instagram atau WhatsApp pribadi mereka karena buat mereka, itu dua dunia yang berbeda dan mereka ingin menjaganya tetap seperti itu.
Dalam bukunya Pollak menekankan bahwa tidak ada satu pendekatan komunikasi yang cocok bagi semua orang. Jadi harus me-remix komunikasi termasuk menggunakan konsep COPE (Create Once, Publish Everywhere) yaitu sampaikan satu pesan yang sama dalam berbagai format, misalnya, rekap rapat bisa disampaikan lewat video singkat untuk yang lebih visual, ringkasan email untuk yang formal, dan pesan melalui Slack untuk yang ingin cepat sehingga semua generasi bisa mengaksesnya dengan cara yang paling nyaman bagi mereka.
Pollak juga memperkenalkan konsep generational translation, yaitu suatu cara untuk menjembatani kesalahpahaman antar kelompok usia dengan cara membingkai ulang konsep. Misalnya leader menjelaskan aplikasi Slack kepada Baby Boomers sebagai suatu alat untuk “ngobrol santai dikantor secara digital”, atau ketika leader harus membimbing Millenials mengenai etika bertelepon tanpa terasa menggurui. Intinya adalah adaptasi bersama, bukan memaksakan satu gaya komunikasi tertentu.
People Management Remix
Disini Pollak mengatakan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan baik oleh perusahaan maupun individu adalah jujur mengakui di mana letak kelemahan leadership masing-masing tanpa memandang usia atau jabatan.
Seorang manajer senior yang sudah 15 tahun memimpin tim mungkin sangat mahir membangun kepercayaan klien, tapi belum tentu ia tahu cara memberi feedback yang efektif kepada karyawan Gen Z yang butuh respons cepat dan komunikasi terbuka. Sebaliknya, seorang team leader muda mungkin sangat efisien dalam mengelola proyek lewat tools digital, tapi belum punya kemampuan membaca situasi politik yang sedang terjadi di dalam organisasi itu.
Pollak menekankan bahwa tidak ada satu pun generasi yang sempurna dalam hal leadership. Justru kesadaran akan kelemahan itulah yang mendorong pertumbuhan. Jangan lihat siapa yang lebih tua atau lebih muda, tapi lihatlah siapa yang punya apa lalu saling berbagi. Ini adalah cara terbaik dalam membangun tim yang benar – benar kuat di era multi generasi ini.
Menuju Lingkungan Kerja Non-Generational
Gagasan paling visioner dalam buku ini adalah konsep Perennials yaitu individu yang tetap relevan dan terus berkembang tanpa terikat pada label generasi tertentu. Mereka bisa berusia 55 tahun tapi sangat aktif di media sosial, cepat belajar teknologi baru, dan cara berpikirnya segar seperti anak muda. Atau mereka bisa berusia 25 tahun tapi punya kedewasaan, kesabaran, dan cara membangun relasi seperti profesional senior. Intinya: usia mereka tidak mencerminkan cara mereka bekerja dan berpikir.
Perusahaan bisa mulai berpikir dengan cara yang sama. Alih-alih terus membuat kebijakan berdasarkan “generasi ini butuh ini, generasi itu butuh itu”, idealnya perusahaan mulai membangun budaya kerja yang inklusif dan timeless yang bagus untuk semua orang, tanpa perlu menempelkan label generasi.
Dan untuk individu, pesannya juga jelas: jadilah Perennial. Jangan biarkan tahun kelahiranmu membatasi cara kamu berkembang. Terus belajar, terus relevan, terus tumbuh seperti tanaman yang tidak pernah layu meski musim terus berganti.
