Leader Bilang “Peduli” Tim Menyebutnya Micromanagement
Seorang leader di sebuah tim marketing pada suatu pagi menanyakan progres desain, siang hari ia meminta draft dikirim untuk dilihat. Sore hari ia mengubah dua kalimat di caption yang sebenarnya sudah disetujui sebelumnya. Buat leader ini merupakan bentuk perhatian. Namun, di grup whatsapp yang tidak ada si leader, timnya menyebut itu micromanagement.
Disinilah masalahnya. Leader melihat dirinya dari niat sementara timnya menilai ini dari dampak.
Leader yang berhasil umumnya memiliki satu kesamaan: mengandalkan timnya karena seproduktif apa pun seorang leader, dia tidak bisa melakukan semuanya seorang diri.
Jadi kalau ingin timnya berkembang, leader perlu melepaskan kendali dan mendelegasikan pekerjaan.
Apa itu Micromanagement
Micromanagement adalah gaya kepemimpinan dimana seorang leader mengawasi, mengatur dan ikut campur secara detail terhadap pekerjaan timnya secara berlebihan daripada melimpahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada tim. Mereka sering memegang kendali penuh atas pengambilan keputusan betapapun kecilnya keputusan tersebut.
Mengapa Leader Sulit Untuk Melakukan Delegasi
Ada banyak alasan tetapi akarnya sama: delegasi berarti melepaskan kendali. Bagi leader yang terbiasa memegang kendali, hal ini terasa berisiko. Beberapa alasan yang paling sering muncul:
- Sifat perfeksionis
Leader perfeksionis memiliki standar yang tinggi dan sering kali menginginkan segala sesuatu dilakukan dengan cara yang sangat spesifik. Baginya, melakukan kesalahan itu merupakan hal yang tidak bisa ditoleransi sehingga pendelegasian tugas menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan.
- Kurang pengalaman dalam manajemen
Leader yang dipromosikan tanpa dukungan serta pelatihan yang memadai, cenderung bertahan di tugas-tugas yang paling dia kuasai sehingga melepaskan tanggung jawab atas tugas lama dan mengalihkan fokus ke strategi yang lebih besar jadi sulit dilakukan
- Tim yang masih belajar
Mengelola anggota yang belum punya keahlian memadai membuat leader mudah terjebak mengecek semuanya demi memastikan hasilnya benar. Melatih orang memang melelahkan di awal, tetapi investasi itu menghemat banyak waktu dalam jangka panjang.
Dampak Jangka Panjang Micromanagement
Micromanagement memiliki konotasi negatif dengan alasan yang jelas. Beberapa sumber termasuk Asana menyebutkan sebagai salah satu dari tiga alasan utama karyawan mengundurkan diri. Pengawasan terus-menerus akan mengikis kepercayaan dan menyisakan sedikit ruang bagi anggota tim untuk berkreasi. Stres, burnout dan penurunan semangat kerja menjadi hal yang lazim. Lama kelamaan anggota tim bisa kehilangan kepercayaan diri hingga akhirnya menjadi bergantung pada pola micromanagement tersebut.
Dari sisi tim, tanda tandanya terlihat jelas. Mereka mengirim laporan sebelum diminta supaya tidak ditanya, bertanya soal hal remeh karena takut salah mengambil keputusan dan menerima revisi yang lebih ke soal selera daripada kualitas.
Praktik micromanagement juga berdampak buruk bagi para leader. Seiring dengan membesarnya tim dan banyaknya pekerjaan, sulit bagi leader untuk mempertahankan tingkat pengawasan yang sama, yang berujung pada beban kerja berlebih, dan pada akhirnya mengakibatkan burnout. Cara ini juga tidak bisa dipakai pada skala besar, karena semua keputusan menunggu satu orang dan alur kerja tersendat.
Padahal peran seorang leader adalah menjadi coach untuk anggota timnya, menyingkirkan hambatan, dan mengambil keputusan strategis. Sebagai leader , anda perlu memberikan sumber daya dan dukungan yang dibutuhkan anggota tim agar mereka merasa berdaya, sehingga tim dapat menangani urusan kecil secara mandiri. Jika leader terlalu larut dalam urusan-urusan kecil, akan sulit untuk berfokus pada strategi gambaran besarnya.
7 Strategi Untuk Stop Melakukan Micromanagement
1. Delegasikan tugas
Mendelegasikan tugas adalah hal yang sulit, terutama bagi leader baru. Saat anda merasa bertanggung jawab untuk memastikan pekerjaan diselesaikan dengan baik, menyerahkan tugas-tugas penting ke tangan orang lain bisa terasa janggal. Tetapi anda hanya satu orang, dan anda perlu mengandalkan keterampilan serta keahlian tim untuk menyelesaikan pekerjaan. Mulailah dari satu tugas yang berisiko rendah.
2. Jelaskan ekspektasi dan kriteria keberhasilan
Micromanagement sering muncul dari arahan yang tidak jelas. Sepakati sejak awal hasil akhir yang diharapkan, tenggat waktunya, dan ukuran pekerjaan yang dianggap baik. Misalnya, “laporan selesai Jumat” jauh lebih jelas daripada “tolong dikerjakan secepatnya”. Dengan begitu, leader tidak perlu mengawasi setiap detail di kemudian hari.
3. Anggap kesalahan sebagai hal wajar
Melakukan kesalahan bukanlah hal yang perlu ditakuti. Justru melalui kesalahanlah seseorang belajar, berkembang, dan menjadi lebih baik. Upaya untuk selalu tampil sempurna membawa dampak buruk yang serius, baik terhadap kesehatan mental maupun waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan. Sebagai leader penting untuk menerima bahwa kesalahan adalah bagian wajar dari proses pendelegasian. Daripada melakukan micromanagement demi menghindari kesalahan, berikanlah tim anda sarana yang mereka butuhkan untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah secara mandiri. Saat leader membiarkan anggota tim melakukan dan memperbaiki kesalahan mereka sendiri, leader membantu membangun pengetahuan dan rasa percaya diri sehingga mereka mampu menangani masalah yang lebih besar di masa datang.
4. Memperjelas tanggung jawab
Micromanagement sering terjadi akibat batasan dan tanggung jawab yang tidak jelas. Tim jadi tidak merasa memiliki pekerjaannya dan ragu mengambil keputusan sendiri. Tegaskan siapa yang memutuskan apa, dan hal apa saja yang perlu dilaporkan lebih dulu. Contohnya, desainer boleh memutuskan warna dan tata letak sendiri, tetapi perubahan logo tetap perlu persetujuan.
5. Kumpulkan masukan dari tim
Beri tahu tim bahwa anda akan menjadwalkan pertemuan untuk membahas masukan mereka. Kenali kekuatan dan minat masing-masing anggota. Dengan memahami setiap individu, anda bisa menyusun tim yang bekerja sama dengan baik dan membagi tugas sesuai kekuatan masing-masing orang. Tanyakan juga secara langsung, bagian mana dari cara anda bekerja yang terasa terlalu mengatur.
6. Membangun kepercayaan
Pada dasarnya, micromanagement berkaitan dengan kepercayaan. Leader perlu percaya agar bisa mendelegasikan tugas secara efektif dan memberikan ruang bagi anggota tim untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Leader perlu fokus untuk membangun budaya kerja positif yang mengutamakan kepercayaan di antara anggota tim.
7. Awasi diri sendiri agar tetap bertanggung jawab
Arahkan pengawasan ke diri sendiri, bukan ke anggota tim. Kemauan untuk mengevaluasi dan mengoreksi perilaku sendiri adalah langkah pertama yang paling menentukan. Cobalah mencatat selama seminggu berapa kali Anda mengecek pekerjaan tim dan apa pemicunya.
Micromanagement mungkin berhasil dalam jangka pendek, tetapi seiring waktu ia menghambat alur kerja dan menimbulkan ketidakpuasan karyawan. Leader terjebak pada hal kecil dan kehilangan fokus pada tujuan besar yang menentukan. Kepercayaan yang diberikan juga biasanya dibalas dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Fokuslah membangun proses tim yang solid untuk memperjelas siapa yang bertanggung jawab atas tugas apa dan kapan tenggat waktunya. Dengan begitu anda tidak perlu terus memeriksa jalannya pekerjaan. Anda cukup menjalankan sistemnya dan memercayakan penyelesaian tugas kepada anggota tim.
Kalau masih ragu, mulai dari satu tugas kecil minggu ini. Sepakati hasilnya, jadwalkan satu kali pengecekan, lalu tahan diri untuk tidak ikut campur. Hasilnya mungkin akan membuat anda tenang. Tidak perlu langsung berubah total, cukup mulai dari satu kebiasaan kecil dan lihat apa yang terjadi.
