Mindfullness vs Emotional Intelligence: Apa Yang Sebenarnya Dibutuhkan Seorang Leader?

Apa yang terjadi ketika seseorang memiliki kompetensi tinggi, tetapi tidak mampu mengelola emosinya sendiri? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika dikaitkan dengan leadership.

Ketika menjadi leader, kompetensi sudah pasti menjadi alasan mengapa seseorang bisa terpilih menjadi leader. Orang ini memahami pekerjaannya, memiliki pengalaman untuk bidang tertentu, bisa mengambil keputusan, tahu bagaimana mencapai target perusahaan dan mungkin sudah cukup lama berada di perusahaan tersebut.

Namun menjadi seorang leader bukan semata – mata seberapa banyak tahu atau seberapa baik seseorang menguasai pekerjaannya. Ada hal lain yang sering kali baru terlihat ketika situasi tidak berjalan sesuai harapan; bagaimana leader bereaksi saat emosinya terusik atau ketika berada dalam tekanan.

Bayangkan seorang leader sedang memimpin rapat dan mendapat pertanyaan dari salah satu anggota tim mengenai keputusan yang baru saja dibuatnya. Sebenarnya pertanyaan tersebut bisa jadi masukan yang berguna, namun karena disampaikan di depan forum, leader merasa keputusan dan otoritas dia dipertanyakan. Seketika leader menjawab pertanyaan dengan nada defensif.

Situasi ini sering ditemui di berbagai perusahaan yang berdampak kepada anggota tim, yang merasa bahwa bertanya bukanlah sesuatu yang aman. Mereka akan memilih diam pada rapat berikutnya, bukan karena sudah sepakat tetapi lebih kepada tidak ingin mendapatkan reaksi yang sama.

Pelan-pelan suasana dalam tim tersebut mulai berubah. Mereka tetap bekerja, target tetap tercapai tapi percakapan yang jujur akan semakin berkurang. Disini terlihat bahwa leadership tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan oleh leader tetapi juga bagaimana kehadiran dan emosinya memengaruhi orang – orang di sekitarnya terutama anggota timnya.

Ketika leader hadir dengan tenang, terbuka dan mampu mendengarkan anggota timnya, suasana kerja akan jauh lebih positif dan kondusif dibandingkan ketika dia hadir dengan keadaan defensif, mudah tersulut atau terus menerus menunjukkan ketegangan. Jadi, emosi seorang leader sangat memengaruhi suasana kerja.

Bukan berarti leader harus selalu tenang atau tidak boleh marah, kecewa atau bahkan frustasi karena sejatinya leader tetap manusia yang memiliki emosi. Persoalannya bukan ketika emosi muncul, tetapi pada apa yang dilakukan setelahnya.

Seorang leader yang sebenarnya memiliki kompetensi yang baik tetapi tidak mampu mengenali dan mengelola emosinya, bisa saja membuat keputusan yang tidak mencerminkan kapasitas terbaiknya, mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dikatakan, mengambil keputusan saat sedang marah atau bahkan malah menutup ruang diskusi karena merasa tidak nyaman dengan pendapat yang berbeda.

Sekali lagi leadership bukan menjadi manusia tanpa emosi, tetapi tentang tidak membiarkan emosi mengambil alih disaat situasi sedang tidak kondusif.

Pentingnya Mindfullness Bagi Leader

Mindfullness sering langsung dihubungkan dengan duduk diam, meditasi, mengatur napas atau aktivitas yang dilakukan untuk menenangkan pikiran. Padahal dalam konteks leadership maknanya bisa lebih luas yaitu membantu memberikan perhatian pada apa yang sedang terjadi termasuk ke dirinya sendiri.

Ketika seorang leader menyadari bahwa dia tersinggung, ingin memotong pembicaraan bahkan membantah pembicaraan anggota timnya, disitulah dia membutuhkan jeda. Tanpa jeda, biasanya orang cenderung bereaksi berdasarkan kebiasaan; kritik dianggap serangan, bertanya dianggap membangkang dan kesalahan anggota tim dianggap sebagai ancaman terhadap kredibilitas dirinya sebagai leader. Padahal belum tentu demikian.

Mindfulness memberikan kesempatan seorang leader untuk menyadari situasi “saya sedang marah” atau “saya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ini” sebelum langsung bertindak berdasarkan emosi. Bukan berarti mindfulness membuat seseorang otomatis tenang. Mindfulness juga bukan tombol yang bisa ditekan setiap kali emosi muncul.

Yang dimaksud disini  adalah kemampuan untuk melihat emosi sebagai sesuatu yang sedang terjadi di dalam diri, bukan sesuatu yang harus langsung diwujudkan menjadi tindakan.

Ini menjadi penting karena tidak sedikit keputusan kurang baik dalam leadership berasal bukan dari kurangnya kompetensi, melainkan dari reaksi yang terlalu cepat. Penelitian mengenai mindful leader development menunjukkan bahwa mindfulness dapat membantu leader meningkatkan perhatian terhadap dirinya sendiri dan orang lain terutama anggota timnya. Dalam penelitian tersebut, para leader melaporkan perubahan dalam refleksi diri, pengelolaan tugas, kemampuan berhubungan dengan orang lain, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Dengan kata lain, ketika seorang leader mampu memperhatikan apa yang sedang terjadi sebelum memberikan reaksi, maka dia memiliki lebih banyak ruang untuk memilih respon yang sesuai dengan situasi. Dan pilihan respon itulah yang kemudian ikut menentukan bagaimana karakter leadershipnya dirasakan oleh anggota tim.

Emotional Intelligence vs Mindfullness

Namun, apakah mindfulness saja sudah cukup? Di titik ini kecerdasan emosi atau emotional intelligence menjadi penting. Mindfullness membantu leader menyadari apa yang sedang terjadi didalam dirinya tetapi kesadaran saja belum cukup untuk menghasilkan respon yang baik.

Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence – Why It Matter More Than IQ menjelaskan kecerdasan emosi melalui kemampuan mengenali emosi diri, mengelola emosi, memahami emosi orang lain serta membangun hubungan secara efektif.

Leader tetap memegang keputusan, tetapi tidak perlu menggunakan emosinya untuk mempertahankan otoritas. Ini juga menjelaskan mengapa kecerdasan emosi menjadi sangat penting ketika kita berbicara tentang suasana kerja dalam organisasi.

Leader yang mudah meledak akan membuat anggota tim belajar untuk berhati-hati. Leader yang defensif dapat membuat anggota tim berhenti memberikan kritik dan saran. Sebaliknya, leader yang mampu mengakui emosi, mendengarkan anggota tim dan mengelola responnya dapat menciptakan suasana yang berbeda. Anggota tim akan merasa lebih aman untuk berbicara, memberikan saran dari sudut pandang yang berbeda atau bahkan menyatakan tidak setuju kepada leader.

Disini kecerdasan emosi bukan sekedar soft skill tambahan melainkan bagaimana seorang leader menggunakan kompetensi, kewenangan, dan pengaruhnya.

Karena pada akhirnya, seorang leader tidak hanya dinilai dari keputusan yang dibuat ketika semuanya berjalan baik. Kualitas leader sering kali justru terlihat ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan: ketika target tidak tercapai, ketika ada konflik atau ketika keputusan dipertanyakan.

Jadi, seorang leader tidak harus memilih antara mindfulness dan kecerdasan emosi karena keduanya memainkan peran yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

Mindfulness membantu seorang leader menyadari apa yang terjadi di dalam dirinya. Ia membantu menciptakan ruang sebelum respons muncul. Kecerdasan emosi membantu leader menggunakan kesadaran tersebut untuk menentukan apa yang perlu dilakukan.

Sederhananya, mindfulness membantu leader untuk menyadari, sementara kecerdasan emosi membantu leader untuk menangani.

Jadi mana yang lebih penting, mindfulness atau kecerdasan emosi? Pertanyaannya adalah: apakah sebagai leader cukup sadar untuk mengenali apa yang sedang terjadi di dalam dirinya dan cukup matang untuk menentukan apa yang harus dilakukan setelah menyadarinya?

Karena pada akhirnya, leadership tidak hanya terlihat dari apa yang dikatakan leader ketika keadaan baik-baik saja. Leadership justru paling terlihat pada beberapa detik setelah sesuatu memicu emosi. Di situlah seorang leader memiliki pilihan: bereaksi seperti biasa, atau berhenti sejenak, menyadari apa yang sedang terjadi, lalu memilih respons yang mencerminkan seperti apa seorang leader ingin dilihat.

Similar Posts